Yunho mengerang, dia melempar ponselnya kelantai dan beranjak mencari
botol kecil berisi obat penenang yang akhir-akhir ini sering dia
konsumsi. Yunho meneguk dua butir sekaligus, dia masih terduduk di
wastafel hingga perasaannya berangsur-angsur membaik. Pria itu kini
menatap wajahnya sendiri dicermin, dia langsung menunduk ketika
mendapati air mata mulai mengalir perlahan—sungguh, ini adalah cobaan
tersulit dalam hidupnya.
Yunho mengaku bahwa dia telah melakukan
kesalahan besar. Disuatu waktu dalam hidupnya dia pernah dicintai oleh
seorang wanita sederhana bernama Park Soo Jung, wanita anggun dengan
segudang kesabaran. Namun, Tuhan seperti marah pada Yunho sekarang.
setelah pria itu membiarkan Park Soo Jung pergi begitu saja, kini dia
begitu membutuhkan gadisnya. Paling tidak, Yunho sekarang merasa menjadi
pecundang besar.
Yunho merebahkan badannya disofa, rasa lelah
kini menjalari seluruh tubuhnya. Dia memejamkan mata, mungkin ini
saatnya untuk pria itu beristirahat sebelum dia mulai mencari lagi
keberadaan gadis itu.
***
Park Soo Jung memincingkan
matanya, sinar matahari sudah masuk melalui gordennya yang tipis. Dia
menggeliat dan beranjak mencuci muka. Tidak butuh waktu lama untuk Soo
Jung menikmati paginya, secangkir kopi kini sudah menyalurkan kafein ke
peredaran darahnya, suara penyanyi kesayangannya pun sudah mengalun
merdu ditelinga gadis itu, namun tetap saja ada yang kurang—sesuatu
didalam hidupnya memang sudah lama hilang.
Banyak yang mengatakan
bahwa hidup memang terkadang dipersulit oleh hal-hal kecil yang
sebetulnya mudah, itu terjadi pada Soo Jung. Jika saja dia mau berbaik
hati memaafkan sikap acuh Yunho dan bertahan disisinya, mungkin dia bisa
merasa lebih sempurna lagi sekarang. yunho, ya pria itu menjadi
segalanya dihidup Soo Jung selama beberapa tahun terakhir. Dari
pertemuan pertama hingga detik ini Soo Jung masih merasakan getaran yang
sama saat mengingat Yunho, dia benar-benar mencintai pria itu.
Lalu, kenapa wanita ini lari dari pria terkasihnya?
Alasannya
sederhana, malam itu pada akhir musim dingin Yunho menyuruhnya menunggu
disebuah restoran mewah disekitar gangnam. Wanita itu sudah begitu
yakin jika Yunho akan melamarnya, dia menunggu dengan perasaan cemas
namun Yunho tidak pernah datang.
Soo Jung meletakan
cangkir berisi kopi itu dimeja, dia meraih ponselnya yang berkedip lalu
mengangkat panggilan masuk diponselnya riang. “Kim Hee Jun?”
“Wanita
bodoh, kemana saja kau?” Orang bernama Hee Jun itu berteriak dari sana,
membuat Soo Jung harus menjauhkan ponselnya beberapa detik dari
telinganya.
“Hey hey, tunggu sebentar. Kau sudah lama tidak bicara
denganku, jadi jangan mulai percakapan ini dengan marah-marah.” Gadis
itu terkekeh.
“Aku tidak bisa untuk tidak marah pada gadis nakal
sepertimu. Kau apakan artisku hingga dia terlihat kacau akhir-akhir
ini?” Hee Jun mendengus kesal.
Soo Jung bergeming, dia lalu membuang nafasnya “Apa Yunho baik-baik saja?”
“Mana mungkin dia baik-baik saja! Dia menjadi sangat menyebalkan setahun belakangan ini, pulanglah atau angkat teleponnya.”
“Aku tidak bisa, Hee Jun.”
“Mau
sampai kapan kau bersikap dingin padanya? Percayalah, malam itu Yunho
tidak bisa datang karena ada pekerjaan mendadak.” Hee Jun kini mulai
kesal bicara dengan gadis itu.
“Sudahlah, aku tidak mau
membicarakan hal ini sekarang.” Soo Jung menutup ponselnya kesal—entah
kenapa, sekalipun hati gadis itu membutuhkan Yunho, namun dia masih
belum bisa memaafkan sikap Yunho yang seenaknya.
***
“Aish,
aku bisa gila.” Pekik seorang pria dengan style girly itu. pria itu
menutup ponselnya dan berjalan menuju sofa, dia memincingkan mata Yunho
lalu mendengus kesal. Hari ini ada beberapa jadwal pemotretan, namun
artis asuhannya itu malah sibuk menghukum dirinya sendiri—lihat saja
kantung mata yang sudah begitu besar diwajahnya, haruskan dia menutupi
semua itu dengan make up tebal setiap hari? Hee Jun terduduk disofa,
bagaimanapun juga dia harus melakukan sesuatu, jika tidak mungkin pria
ini akan mati siang nanti.
Hee Jun melangkah dengan secangkir air
dingin, dikucurkannya air itu perlahan hingga membuat pria bernama Yunho
itu terperanjat. “Ya! Apa yang kau lakukan padaku.”
Hee Jun mendelik kesal, “Bangunlah, aku akan membuat pengakuan padamu.”
Yunho
merasa jengah, Hee Jun membawanya kepantai dengan Ferrari canggih
miliknya. “Sebenarnya kau mau membawaku kemana, hah?” Pekik Yunho.
“Aku akan membawamu ke sumber energimu.” Dia terdiam beberapa saat. “Harusnya aku sudah mengatakan hal ini dari dulu.”
“Apa?”
“Aku tau keberadaan Soo Jung, aku yang membantunya mengasingkan diri darimu.”
Yunho menatap wajah managernya itu geram, rasanya ingin sekali dia memukul pria itu tepat diwajahnya.
“Wow
wow, tenang dulu, man.” Seperti dapat membaca fikiran Yunho, Hee Jun
cepat cepat menjelaskan semuanya. “Wanita mu melarangku mengatakan
apapun, ayolah Yunho maafkan aku.” Dia terkekeh saat mobilnya memasuki
sebuah rumah dengan banyak bunga bermekaran. “Masuklah, aku yakin dia
ada didalam.
Yunho terlihat ragu sejenak, namun itu tidak
berlangsung lama ketika dia menekan bel pintu itu dan mendengar suara
yang begitu dia rindukan berkata lembut padanya. “Hee Jun kah?” Seketika
pintu terbuka, wanita itu terkejut melihat kedatangan Yunho dirumah
kecilnya.
“Bagaimana bisa aku mencintai wanita sepertimu?” Bisik
Yunho, dia menahan dirinya untuk tidak sesegera memeluk Soo Jung.
Hatinya kesal, namun dia tidak bisa merasa kesal ketika menatap wajah
itu.
“Kenapa kau bisa sampai disini?”
“Harusnya kau meminta
maaf padaku, kan? Kenapa tidakkau lakukan?” Ucap Yunho dingin. Soo Jung
bergeming, wanita itu tidak bisa mencerna kata-kata Yunho dengan baik.
Dia menunduk dan mulai menangis.
Yunho memandang gadisnya, rasa
perih itu menjalari tubuhnya. Dengan perlahan Yunho mendekap tubuh Soo
Jung, membiarkan gadis itu menangis dan membiarkan rindunya menguap
sedikit demi sedikit. “Maafkan aku.” Bisik Yunho. Gadis itu mengangguk,
dia mulai membalas pelukan Yunho.
“Ingatkan aku jika aku lupa
untuk mengatakannya” Yunho terdiam sejenak, dia terlihat menelan udara
kedalam paru-parunya dan membuangnya kembali. “Kau perlu tau, aku tidak
dapat menghilangkan senyum indahmu begitu saja. Kau meninggalkan
jejak-jejak disini, membuatku mengikutinya lagi dan lagi untuk kembali
padamu—pernahkah kau merasa begitu baik ketika memandang wajah
seseorang? Aku kini sedang merasakannya, ketika memandangmu aku tau
bahwa aku mencintaimu. Ingat itu dan maukah kau kembali padaku?”
Soo
jung tersenyum, dia melepas pelukan erat mereka dan menatap wajah pria
yang selama ini dikaguminya. “Tentu saja.” Bisik Soo Jung mantap.
Subang, 3 Juni 2012.
Sabtu, 02 Juni 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar