Pria
itu menatapku sekilas dari tempatnya duduk lalu kembali menatap setumpuk
buku-buku tua berjudul hampir sama dipangkuannya. Dia menghembuskan nafas kesal
saat menyadari aku sudah berada lebih dekat lagi dengannya, pria itu menoleh
jijik padaku kemudian mengetukkan pensilnya ke meja—tanda bahwa dia sangat
terganggu.
Aku
menunduk, mencoba mencari benda yang seharusnya ada disekitar pria itu—namun
tidak ada. Sedetik aku menoleh padanya, namun raut wajah itu belum juga berubah
hingga mengurungkan niatku untuk bertanya. Sudah ku duga, dia pasti marah
karena kejadian kemarin. Sungguh, tidak ada niat sedikitpun dari ku untuk
membuatnya kecewa dan terluka—itu semua hanya salah faham, pertemuanku dengan
mantan pacarku murni ketidaksengajaan.
Pria
itu berdiri dengan tiba-tiba dari duduknya lalu menarik lenganku. Entah kenapa,
sekalipun dia marah, tapi genggamannya sama seperti biasanya—begitu lembut dan
nyaman. Dia menuntunku keluar, menerabas hujan yang sedang buncah, mengiraukan
segala hal dan memaksaku masuk kedalam mobilnya serta melaju bersama keheningan
besar diantara kami.
Aku
menoleh padanya—rasa takut masih mengunci mulutku. Kemudian, kami berhenti
didepan sebuah rumah kecil bercat biru langit. “Turun.” Perintahnya pelan, namun terdengar begitu dingin. Aku
turun dengan patuh, mengikuti langkahnya lagi hingga dia masuk kedalam rumah
yang baru sedetik tadi aku kagumi. Dia menoleh padaku, lalu berkata dengan
lembut. “Jadi, kapan kau siap melupakan
dia dan hidup bersamaku disini? Ran, menikahlah denganku.” Sebuah kotak
berlapis beludru mungil menggantung ditanganya.
0 komentar:
Posting Komentar