Sabtu, 26 Mei 2012

Terakhir

Diposting oleh Intang Kartika di 20.11

Pria itu menatapku sekilas dari tempatnya duduk lalu kembali menatap setumpuk buku-buku tua berjudul hampir sama dipangkuannya. Dia menghembuskan nafas kesal saat menyadari aku sudah berada lebih dekat lagi dengannya, pria itu menoleh jijik padaku kemudian mengetukkan pensilnya ke meja—tanda bahwa dia sangat terganggu.
Aku menunduk, mencoba mencari benda yang seharusnya ada disekitar pria itu—namun tidak ada. Sedetik aku menoleh padanya, namun raut wajah itu belum juga berubah hingga mengurungkan niatku untuk bertanya. Sudah ku duga, dia pasti marah karena kejadian kemarin. Sungguh, tidak ada niat sedikitpun dari ku untuk membuatnya kecewa dan terluka—itu semua hanya salah faham, pertemuanku dengan mantan pacarku murni ketidaksengajaan.
Pria itu berdiri dengan tiba-tiba dari duduknya lalu menarik lenganku. Entah kenapa, sekalipun dia marah, tapi genggamannya sama seperti biasanya—begitu lembut dan nyaman. Dia menuntunku keluar, menerabas hujan yang sedang buncah, mengiraukan segala hal dan memaksaku masuk kedalam mobilnya serta melaju bersama keheningan besar diantara kami.
Aku menoleh padanya—rasa takut masih mengunci mulutku. Kemudian, kami berhenti didepan sebuah rumah kecil bercat biru langit. “Turun.” Perintahnya pelan, namun terdengar begitu dingin. Aku turun dengan patuh, mengikuti langkahnya lagi hingga dia masuk kedalam rumah yang baru sedetik tadi aku kagumi. Dia menoleh padaku, lalu berkata dengan lembut. “Jadi, kapan kau siap melupakan dia dan hidup bersamaku disini? Ran, menikahlah denganku.” Sebuah kotak berlapis beludru mungil menggantung ditanganya.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Intang Kartika Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei