Title : Don’t Fall Before Bloom
Author : Intang
Cast : Taemin SHINee , Sulli F(x)
Other Cast : Daphne
Don’t Fall Before Bloom..maknanya adalah jangan menyerah sebelum kamu mencoba. Sebab, bunga juga harus merasakan kuncup dan mekar baru mereka luruh ketanah, untuk memaknai arti mekar dan pernah hidup. Lakukan yang terbaik dalam hidupmu.
__
aku menyukai pria itu. Dia pria yang ramah & periang. Dia juga pria yang mempunyai senyum terindah dari pria manapun. Sikapnya yang lembut, cara dia menghargai dan memperlakukan wanita, sifat pemaafnya, kerendahan hatinya, itu semua yang membuatku jatuh hati padanya. Satu hal lagi, dia pria yang mempunyai mata paling teduh dari semua pria yang pernah kutemui. Dan bisa di bilang, aku menyukai semua hal yang dimiliki sebagai seorang manusia.
**
“TAEMIN” teriakku dari pintu ruang baca. Pria itu menoleh dan tersenyum.
“apa?” tanya nya
“buatkan aku Caramel Milk Tea. Pleaseee…” rengekku pada Taemin
“tidak mau” ucapnya
“ah, Taemin jahat!.” teriakku
“iya, iya..baiklah. Tapi lain kali belajarlah membuatnya sendri, dasar kau gadis pemalas.” ucap Taemin sambil bersiap menuju dapur.
“baiklah !” aku menghambur mengejar Taemin dan memeluknya.
“khamsahamnida oppa” ucapku.
Iya, dia Taemin. Kakakku, lebih tepatnya kakak angkatku. Ibuku dan Ibu Taemin berteman akrab.
Sepuluh tahun yang lalu kedua orang tuanya meninggal dan Taeminpun tinggal bersama kami. Sepuluh tahun itu juga, aku menemukan sosok pria yang membuat hidupku berubah. Aku menyukainya, menyukai sosok itu. Pria yang tampan, pintar dan serba bisa. Berbeda sekali denganku yang ceroboh dan tidak bisa diatur.
Sikapku yang kekanak-kanakan bisa dia cover dengan baik, dia memperlakukanku layaknya adiknya, membantuku, mengerjakan pekerjan rumahku jika aku tidak mau mengerjakannya, membersihkan kamarku, merapihkan komik-komik yang selalu berantakan di ruang baca kami (padahal itu ulahku) dan dia rajin mengajakku pergi melihat mentari senja di pantai dekat rumah kami (bersepeda berdua).
Bersamanya merupakan hal yang paling ku senangi, selalu kurindukan berdua dengannya, tapi pertanyaannya selalu sama ‘apakah aku pantas mencintai dia? Orang yang sudah menganggapku adik, bahkan menyayangiku tak lebih dari itu. Apa itu pantas?’
“don’t fall before bloom” ucapnya pada suatu senja di musim gugur 2 tahun lalu. Saat itu aku tak paham apa yang dia ucapkan, aku hanya tau artinya, tapi tak pernah tau apa maknanya. Aku menatap wajah itu lekat-lekat. “kau kenapa?” ucapku. “tumben-tumbennya kau sok berpuitis seperti itu.”
“kau itu bodoh sekali, apa kau tidak pernah menyimak pelajaran sastra dikelas sastramu apa?”
aku diam. Cemberut menatapnya.
‘aku kan slalu tidur saat pelajaran sastra’ batinku. “aku tahu” ucapku asal
“tau apa?” jawab Taemin. “tau kalau ramenmu itu enak? Haha”
“aku tau. Sungguh!” ucapku sok meyakinkan.
“paling yang kau tahu hanya ramen, kimchi, kimbab, lalu apa itu yang berkuah merah tak beraturan itu?”
“apa? Tteokbokki maksudmu?”
“nah, bnar tteokbokki. Tuhkan, kamu pling pintar kalau urusan makanan. Hahaha”
“kau itu. Meledek saja” aku memukul bahunya bertubi-tubi. Dia tertawa renyah, dan aku mendengarkan tawanya, aku bahagia.
“sudah cukup. Sakit tau” ucap Taemin. Memegang tanganku agar berhenti memukul. “kau tau?” tanyanya
“ng?” gumamku
“makin lama pukulanmu itu makin bagus, makin kerasa sakit. hehe” dia mencubit kedua pipiku. “yuk kita pulang”. Menarik lenganku & kamipun berjalan berdua, dengan tangan bergandengan disepanjang jalan taman maple ini, dua tahun lalu saat rasa ini masih terasa indah.
“apa? Kau bercanda?” aku mendorong Taemin menjauh dariku
“aku minta maaf” dia menatapku dengan tatapan iba
“kenapa?”
“sudah jelaskan? Aku salah satu pelajar dari Korea yang terpilih dalam program beasiswa ke Amerika itu. Aku harap kau bisa mengerti, aku hanya belajar disana”
“tapikan itu artinya kau akan pergi. Aku tidak mau!” teriakku pada Taemin. Dia diam
“kalau liburan, aku pasti pulang. Atau kau yang kesana?” bujuk Taemin padaku
“bukan karena itu” ucapku sambil terisak
“lalu apa?”
“aku, aku..” kata-kata terputus. Aku tak kuat menatapnya. Ada rasa yang tak bisa ku jelaskan saat itu, dadaku sakit, tenggorokanku tercekat untuk meneruskan perkataanku. Tubuhku bergetar hebat, detak jantungku semakin tak teratur.
Taemin masih menatapku. Dia mendekat, jarak antara dia dan aku kini semakin dekat. Tangan kanannya menyentuh kepalaku, dan tangan kirinya mendekatkan tubuhku padanya. Dia memelukku, sangat erat, bahkan sampai membuatku sesak nafas.
Lagi-lagi senja yang mengantarnya datang dan pergi.
Masih banyak yang ingin ku bicarakan denganmu. Masih banyak. Bahkan terlampau banyak. Pulanglah Jagiya…
**
Sekarang, pertengahan Oktober, musim gugur lagi, musim gugur lagi. Sudah empat tahun musim gugur aku lewati tidak dengan siapapun.
Taemin? Jangankan pulang, memberi kabarpun tak pernah. Mungkin dia sangat sibuk disana.
Teman-temanku pun banyak bercoleteh akhir-akhir ini, mereka sibuk menyarankan beberapa pria padaku. Dari mulai kencan butalah, bikin scenario anelah, sampai mengenalkanku pada pria-pria yang kadang tak ku mengerti jalan fikirannya.
**
Hampir gila aku empat tahun terakhir ini tanpa Taemin.
Aku melangkahkan kakiku menuju salah satu kursi di sudut taman maple itu. Kursi yang tua, tapi aku yakin masih kuat untuk menampung semua beban pengunjung taman maple ini, termasuk aku.
Kusandarkan tubuhku pada sandaran kursi tua itu, aroma kayu-kayu maple yang gugur membuatku bisa merasakan kenyamanan tempat ini, senyaman pelukannya dulu.
Aku sekarang berusia 20 tahun, tak terasa lamanya waktu berlalu, sudah setua ini ternyata aku, sudah selama ini juga aku mencintai dia.
“sedang apa kau disini?” sapa seseorang dibelakangku. Aku menoleh. Pria itu mengenakan mantel abu tebal dengan tangan terlipat di dadanya. Aku tetap mengacuhkannya kembali pada posisi semula.
“hai nona, aku tanya sedang apa?” pria itu bertanya lagi. Aku tetap berdiam, tak peduli. Dia kesal, tercermin dari hembusan nafasnya yang mendengus sebal padaku. “kau itu bisu hah?”. Dia mulai berteriak. Aku tetap tak peduli. “Sulli. Apa kau sudah lupa padaku?” ucapnya lagi. Aku mulai bergerak, gendang telingaku hampir pecah mendengar suaranya yang begitu keras. “kau siapa?” tanyaku, karena aku memang tidak tahu pria itu siapa. Pasti ulah teman-temanku lagi.
“aku Daphne, temanmu. Tetangga kecilmu yang pindah 14 tahun yang lalu. Kau lupa padaku?” jawabnya panjang lebar.
‘Daphne?’ aku mengejanya dalam hati. Otakku meloading dengan keras. Sepuluh menit kmudian aku baru sadar, aku tau dia itu siapa. DAPHNE!!
“DAPHNE!! Kapan kau datang?” pekikku
“nah, baru sadar kau? Dasar nenek tua pikun” ujar Daphne padaku, dia menyeringai.
“heh enak saja kau. Habisnya kau berubah sangat drastis. Lihat!” aku memperhatikan penampilannya dari ujung ke ujung. Benar-benar beda, tidak seperti Daphne yang ku kenal dulu. Daphne, dia ini teman kecilku. Anak laki-laki dari tetangga sebelahku dulu. Dia berkebangsaan Inggris & pindah ke Inggris lagi saat dia berumur 7 tahun. Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa? Padahal dia pria yang selalu menjagaku dulu, sebelum Taemin datang di kehidupanku. Ya Tuhan, cepat sekali aku melupakannya. Satu hal yang menyadarkanku lagi, pengaruh Taemin memang sangat besar untuk hidupku. “kenapa bengong? Kau memang tak pernah berubah, bahkan aku saja yang sudah 14 tahun berpisah denganmu masih sangat mudah mengenalimu. haha” ledeknya padaku
“jadi kau datang hanya ingin mencelaku?”
“Haha. Tidak tidak. Eh, tapi sejak kapan kau sering ke taman ini? Tidak ku sangka akan bertemu denganmu disini. Gadis yang tak mau diam sepertimu aku fikir tak akan suka tempat sepi” ucapnya heran.Aku diam. Dan tersenyum, lalu memberikan isyarat padanya untuk duduk dikursi tua itu “sudah lama ya kau meninggalkan Korea?..” ucapku
“iya..” kami diam. “hey, bgaimana kalau kau menemaniku jalan-jalan. Aku sudah tak hafal lagi jalan
disini, banyak sekali yang berubah. Kau sedang senggangkan?” dia bertanya penuh harap padaku. “sudahlah jangan banyak berfikir” dia menggamit tanganku dan kamipun pergi berkeliling Korea hingga kakiku terasa pegal. Dia benar-benar berniat mencelakaiku. Tapi aku senang, sedetik, aku bisa melupakan Taemin
**
“sudah cukup” aku berteriak pada Daphne
“aku mencintaimu, tidakkah kau percaya padaku?” ucapnya lagi
ini adalah satu bulan setelah pertemuan kami di taman itu.
“kau gila” aku tak peduli, harusnya dia tahu bahwa aku mencintai Taemin, sudah pernahku ceritakan padanya tentang semua itu, dimana jalan fikirannya? Kali ini aku melangkah meninggalkan Daphne yang menatap kepergianku tak percaya.
Sungguh, aku meminta maaf karena itu Daphne.
Sampai aku di depan rumahku kubuka pintu depan ruang tengah rumah kami. ‘bising. Ada siapa? Siapa yang datang?’ aku bertanya dalam hati. Kubuka pintu itu perlahan, semakin lebar semakhn aku tak percaya. Dia? Pulang?
Aku terperangah melihatnya, bagaimana tidak, setelah empat tahun tak bertemu dengannya kini dia seenaknya datang tanpa memberitahuku dulu. Aku kaget, kesal, bahagia, campur apalah aku tak tau.
Empat tahun, senyum itu, mata itu, wajah itu, tak pernah ku lihat. Seperti mimpi rasanya berada di depannya saat ini. Seperti bertemu orang asing tapi sudah lama aku menyukai orang asing itu..
Aku termangu di depannya, seperti orang bodoh. Ada apa dengan hari ini? Seolah mengoyakku, sakit melihatnya, sakit hingga tak bisa bernafas lagi.
“kau sudah pulang Sulli? Coba lihat siapa yang datang” ucap Ibuku. Dia tersenyum. Aku sebisa mungkin menahan air mata. “silahkan masuk” ucap ibuku. Tumben ibu formal begitu padaku (batinku sendiri) aku menginjak lantai kayu rumahku, tetap memandangnya.
“mau minum apa?” tanya ibuku lagi. Aneh sekali dia hari ini padaku.
“apa saja” aku mendengar suara pria disebelahku. Aku menoleh. Sejak kapan Daphne ada disini?!!!
“nah, Taemin. Kenalkan ini Daphne, tetangga kami yang pindah ke London” ucap Ibuku pada Taemin. “senang sekali ya, bisa bertemu dengan kalian berdua hari ini” (ibuku ngomong apa siy?) “Sulli, temani mereka ya”
selepas kepergian Ibu kami bertiga saling diam. Hampir 30 menit kami tidak mengeluarkan suara apapun. Bayangkan saja, bagaimana bisa aku berbicara pada pria yang baru tadi menyatakan cintanya
dan pada pria yang sangat ku cinta dan baru bertemu lagi. Aku harus bicara apa? Tak terfikir sedikitpun dikepalaku kalimat apa yang seharusnya ku katakan.
“apa kabar” akhirnya Taemin mencoba merubah suasana. Aku tak menjawab.
“baik, nice to meet you” ucap Daphne
“nice to meet you too. Teman Sulli?” tanya Taemin lagi
“iya, teman kecilnya” jawab Daphne tegas
“hmm..Dari umur berapa?” pertanyaan Taemin benar-benar tidak penting. Ini malah lebih tepat disebut intrograsi daripada pertanyaan.
“dari kecil” jawab Daphne
‘halah, benar-benar integrator yang buruk dan penjawab yang payah’ batinku dalam hati.
“oh, kau apa kabar?” pertanyaan Taemin beralih padaku. Aku mulai mengangkat kepalaku. Tersenyum sambil menahan mataku agar tidak basah. “sangat baik, jauh lebih baik”
“baguslah” lama Taemin menatapku.
“aku perlu bicara sebentar” ujar Daphne padaku. Tanpa menunggu jawabanku, dia menarik tanganku keluar.
“kau itu kenapa sih?” aku mengibaskan tangannya. Kini kami berada jauh dari rumahku. Entah orang ini kenapa.
“pria tadi Taemin kan?” tanyanya
Aku diam..dia bertanya lagi. “benar?”
aku masih tetap diam
“JAWAB AKU!!!” kini dia membentakku. Tangannya mencengkram erat kedua bahuku.
Aku mengangguk serta meringis menahan rasa sakit.
“KAU MENYUKAINYA??”
aku mengangguk..
“KAU MENCINTAINYA??”
aku mengangguk..
“kau tidak mencintaiku?” suaranya mulai meluluh, terdengar bahwa pria di depanku itu mulai merapuh. Aku memberanikan menatap ke dalam kedua matanya, “kau sedang marah, baiknya kita bicarakan ini nanti. Saat kau sudah mulai tenang, kita bahas lagi dengan kepala dingin” ucapku padanya
“aku butuh jawabanmu sekarang. Aku akan pulang ke London besok pagi” ujarnya
Aku merasa iba pada pria itu. “dengarkan aku, aku sangat menghargai perasaanmu. Sungguh. Aku sayang padamu, aku tidak mau kalau harus kehilanganmu, kamu itu berarti, sangat berarti sekali di hidupku. Tapi, semua itu hanya sebatas teman. Sebatas persahabatan, persahabatan yang sudah kita jalin sejak kecil. Aku tidak bisa mencintaimu, menyayangimu, lebih dari itu. Ku harap kau mengerti, kau harap kau dewasa dalam menghadapi ini”. Aku menyentuh kedua pipinya yang basah oleh air matanya.
“baiklah, aku paham. Aku melepasmu. Pergilah, kejar dia, katakan padanya kau mencintainya” ucapnya nyaris tak terdengar.
Aku menggeleng. “aku tidak akan mengatakan apapun padanya.
Karena selama ini, aku tau dia tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik kesayangannya”
“kau salah besar. Aku yakin dia itu mencintaimu juga. Aku banyak belajar cinta darimu Sulli, dan ini bukan perkataan seorang anak kecil lagi, aku sudah dewasa, aku yakin dengan apa yang kukatakan. Pergilah, demi aku, katakan hal itu padanya. Aku selalu mendoakan kebahagian untukmu”.
Itu adalah kalimat terakhir yang ku dengar dari mulut Daphne, setelah dia mengecup keningku, dia pergi. Dan dia benar-benar melepasku kali ini, di pertengahan musim gugur ini, dia tak akan kembali lagi.
**
Taemin menatapku marah, aku tau aku salah. Satu minggu ini sejak kepulangan Daphne, aku berubah jadi anak yang menjengkelkan untuk Taemin. Akupun tak tau kenapa. Kesal rasanya melihat wajah itu. Daphne? Bukan, ini bukan karna dia ataupun karna aku menyukainya. Ini lebih tepatnya muncul dari nuraniku sendiri.
“kau itu!!” Taemin membentakku, baru kali ini dia membentakku
“aku tidak mau minum Caramel Milk Tea buatanmu” ucapku
“iya, terserah soal itu. Tapi bisakah kau tidak usah menumpahkan Caramel buatanku?” jawabannya tak kalah sengit.
“bukannya selama 4 tahun terakhir ini juga aku tak pernah
meminum Caramel buatanmu, mendengar kabarmu, bahkan melihatmu” ucapku tidak nyambung
“kau itu kenapa Sulli? Aku benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya kau itu kenapa,huh? Ok, masalah aku tidak pernah memberimu kabar itu aku mimta maaf. Tapi harus kau tau, aku benar-benar sibuk di Amerika. Aku ingin secepatnya menyelesaikan kuliahku, aku ingin aku bisa pulang tidak untuk satu minggu atau dua minggu disini, bukan untuk liburan atau apapun, aku ingin secepatnya kembali melihatmu lagi.” jantungku sesak sesaat mendengar kalimat itu. “aku ingin berkumpul dengan keluarga angkatku ini lagi” lanjut Taemin
Aku diam, ada yang aneh saat mendengar kalimat terakhirnya.
“aku tidak peduli” ucapku sambil berdiri hendak meninggalkannya. Tapi, tangan itu mencegahku lagi, tangan yang selalu bisa membuatku nyaman.
“aku tahu kau marah” ucap Taemin
“aku tidak pernah merasa marah padamu” aku mulai luluh
“kau menyimpan perasaan padaku kan?” pertanyaan Taemin membuatku terkejut. ‘Darimana dia bisa tau itu?’
aku diam menatap tajam ke dalam bola matanya. “berhenti bertanya padaku” ucapku kasar
“kau tidak bisa berbohong padaku. Jujurlah Sulli”
“jujur untuk apa?” jawabku
“tentang perasaanmu itu. Kau mencintaiku kan?”
aku diam. Aku tidak bisa menjawab apapun, aku belum siap menerima kenyataannya.
“jujurlah, aku menunggu kejujuranmu”
aku diam.
“baiklah jika kau tidak mau jujur. Biar aku yang katakan kejujurannya”
Jantungku berdetak cepat, apa maksudnya, aku tidak mengerti.
“kau tahu?” ucap Taemin “aku merindukanmu, adikku. Aku merindukanmu lebih dari seorang kakak pada adiknya, tidakkah kau bisa merasakannya. Perhatianku, cara aku menyentuhmu, cara bicaraku, sikap mengalahku padamu, cara melindungimu, memperlakukanmu, apa kau tidak pernah menyadarinya sampai-sampai kau harus menyiksa dirimu seperti ini, dengan menyembunyikan perasaan yang sama yang kita rasakan? Apa kau tidak sadar?” ucap Taemin lembut.
Aku diam dan mulai menangis.
“kau jahat. Kau pergi begitu saja, tanpa menjanjikan apapun. Kau kan tahu aku polos, mana aku bisa menyadari bahwa kau juga mencintaiku. Kau benar-benar menguji kesabaranku” jawabku dengan tangis yang mulai meledak.
Taemin menyandarkan kepalaku di dadanya. “sekarang bisa kau rasakan? Detaj jantungku yang tak beraturan ini, bisa kau terjemahkan lagi?”
aku mengangguk.
“sekarang Sulli, berjanjilah..berjanjilah untuk selalu ada di sampingku, aku janji tidak akan pernah
meninggalkanmu lagi” kata-kata itu yang slalu ku ingat, awal baru dari kisah baru kami.
****
“TAEMIN” teriakku dari pintu ruang baca. Pria itu menoleh dan tersenyum.
“apa?” tanya nya
“buatkan aku Caramel Milk Tea. Pleaseeee…” rengekku pada Taemin.
“tidak mau” ucapnya
“Ah Taemin jahat!” teriakku
“iya, iya..baiklah. Tapi lain kali belajarlah membuatnya sendiri, dasar kau gadis pemalas.” ucap Taemin sambil bersiap menuju dapur.
Iya, dia Taemin, kakakku, lebih tepatnya sekarang sudah menjadi suamiku.
Tepat 2 tahun setelah kejadian itu, kami menikah.
Dan ku jamin kami berdua bahagia. Lebih bahagia dari pasangan artis Intang Kartika (author numpang eksis) dan Hyun Bin itu
“iya, sama-sama sayang” lima menit kemudian Taemin mengantarkan secangkir penuh asap Caramel Milk Tea.
“hummm, harum sekali” ucapku mengambil cangkir di tangannya. “apa saja yang kau lakukan hari ini?” tanyaku pada suamiku itu
“eumm..” dia nampak berfikir. “kerja, mengerjakan beberapa laporan kantor, lalu pergi mengambil mobil kita di bengkel, datang kerumah kita. Dan..” Taemin tidak melanjutkan perkataanya.
“dan?” tanyaku penasaran
“dan tugas terakhir serta penting untukku adalah membuatmu tersenyum detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, besok, lusa dan abad-abad yang akan datang”
THE END
0 komentar:
Posting Komentar