
Sekarang aku mulai berfikir.
Tidakkah aku ini berlebihan? Jika suatu ketika aku berdoa "Semoga kita berjodoh Hyun Bin.". Jika aku berharap suatu hari kita akan bertemu dalam tangan ketidaksengajaan, seperti di dalam drama-drama korea. Kau berjalan menabrakku, atau mungkin kita bertemu di coffee shop dan saling jatuh cinta, atau mungkin kita memang sudah dijodohkan dari awal. ah-- aku mungkin sudah tidak waras.
Ya, aku faham. Jika didunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, nothing impossible. Tapi kemungkinan kita bertemu hanya 50% dan kemungkinan kau melihatku (menyukai) lebih rendah dari itu. So, apa sekarang masih pantas jika aku terus memerintah syaraf-syaraf di otakku ini untuk mensugestikan hal-hal diatas? Masihkah masuk akal?
Lalu,setelah pada akhirnya aku menyadari jika kamu tidak lebih dari sebuah FATAMORGANA, sebuah MANIPULASI klasik yang tidak akan ada ujungnya, sebuah STANDAR yang terlalu tinggi untuk hidupku, apa yang harus aku perbuat? Apa aku harus men-delete mu begitu saja? Apa aku harus membuang jauh-jauh mimpi itu dan berjalan pergi dengan tenang seperti telah selesai menulis daftar tamu di pesta pernikahan seorang kerabat? Menurutku ini tidak mudah. Jika begitu, apakah aku masih harus terus melanjutkan mimpi ini?
Menghadapi kenyataan yang pahit itu tidak semuah membuang air dalam gelas. Dan membuangmu sama saja menumpahkan air ke bajuku sendiri, bekasnya akan ada dan terasa. Sekarang, konsep yang pantas untuk menerimamu harus seperti apa? Karena cinta menggantung di selaput otakku, terbawa aliran darah dan menyebar didalam tubuhku.
0 komentar:
Posting Komentar